Monday, 27 July 2015

Menikmati Badai Gunung Kajang

Badai itu datang saat langit berwarna biru, saat matahari tepat diatas ubun- ubun, dan tepat saat kaki menginjak kota yang hampir diujung Jawa, dan tepat saat aku hisap aroma laut selatan. Dalam... Aku hisap dalam- dalam udara di pantai kota Jember ini. Dingin... Aku merasakan dingin masuk kedalam hidungku kemudian menghantam paru- paruku dan merambah menusuk tulang- tulagku dan kemudian menyentuh hatiku yang seketika beku dan siap pecah berkeping kapan saja ketika tak mendapatkan heater dari Sang Pemberi. 


Bengong di Pantai Malikan seru juga heu heu heu

Kulangkahkan kakiku menuju Siti Hinggil, tempat tertinggi dimana aku bisa melihat semua sudut pantai ini. Dahiku mulai berpeluh, dingin masih saja menusuk, dan mataku mulai berair. Namun kakiku terus melangkah.

Pendopo Siti Hinggil cuma kliatan atepnya doang, haduh bleh duwur...

Satu... Dua... Tiga... Satu... Dua... Tiga... Dalam tiga hitungan berkali kali aku telah menjadikanku bersender pada tiang pendopo Siti Hinggil yang menjadi bahu untuk kepalaku. Kembali paru- paruku menghirup molekul- molekul di Tanjung Papuma yang kemudian memberontak menjadi embun yang kemudian meleleh dari mataku. Aku menyadari ada sesuatu meledak di dalam diriku. 


Ah... aku semakin tak mengerti apa arti perjalananku. Aku semakin tak mengerti tentang makna udara yang keluar masuk lewat hidungku, tentang kelopak mata yang menutup dan kemudian terbuka lagi, tentang dada yang berdegup dan semakin kencang berdegup ketika mendengar sebuah nama. Namun mataku menunjukkanku pada sesuatu, bahwa aku harus seperti Gunung Kajang yang ada di hadapanku. 


Walau badai menghadang, harus kuat setiap saat. Sekuat Gunung Kajang... Ngahahahahaha

4 comments:

  1. ahh.. jadi pengen jalan-jalan...

    ReplyDelete
  2. Untung Gunung Kajang gak runtuh karena badai di hatimu.

    ReplyDelete