Monday, 21 July 2014

Gangsing: Sredang Beach- Jungwok Beach- Baron Beach- Mount. Merapi

Ini imejing sekali sodara...dalam edisi week end kali ini ane menyinggahi 3 pantai 1 gunung layaknya Ninja Hatori. Buset bujur... emang bisa ya? Bisa banget, pake sistim tektok pulak...kagak ngecamp...kecuali Mount. Merapi lowh...

Dari Jogja kota ane berangkat jam 3 AM, alias abis sahur ane berangkat naik motor sama temen ane yang udah ngidam foto- foto genit ala putri duyung sebelum doi balik ke Kalimantan. Byuhh... ente bisa bayangin jam 3 pagi ane harus goncengin doi dari Jogja kota sampai perbatasan Pacitan sana. Mana bulan ini lagi musim dingin beud pulak. Tapi okelah... demi...demi...demi...



Sredang Beach, Si Cantik Perawan belum Terjamah 


Pantai Sredang letaknya ada di sebelah timur Pantai Jungwok, Pantai Jungwok letaknya di sebelah timur Pantai Wedi Ombo. Jika ente- ente kesusaha cari jalurnya, bisa ente ambil start dari Pantai Baron ke timur terus melawan Biksu Tong dan teamnya mencari kitab suci, sampe ketemu plang plang plang plang yang banyak bertuliskan pantai- pantai indah dan endingnya ente ketemu plang Pantai Wedi Ombo. Ente harus tetep ikutin arah ke Pantai Wedi Ombo, sampek retribusi masuk Pantai Wedi Ombo, nah entar ente akan nemu pertigaan pertama ke kiri, ente ambilah jalan cinta yang asoy itu. Jika ente ragu, ente bise sajo bertanya sama ke petani setempat, bicaralah dengan baik dan sopan ya anak muda hahahaha anda akan selamat sampai tujuan.

Perjalanan kami ke Pantai Sredang menghabiskan waktu 3 jam 25 menit. Itu sudah termasuk belanja belanja buat nyemal nyemil dan buat isi amunisi si belalang tempur. Jiah.... lumayan buat bikin boyok pegel sodarah...

Sebenernya pantai ini bukan tujuan utama kami, tapi bagaimana pun kami harus nyasar untuk melihat yang bagus- bagus. Yah... alibi lagi deh. Susah banget ane enggak nyasar. Tapi ya... terbayar lah sama apa yang kami dapetin di sana. Dan berikut liputannya...

Nah, itu gambaran singkat tentang jalur trackingnya yang termasuk bonus. Jika kalian mau kesana, hendaknya disarankan untuk memilih kendaraan yang sudah di approve buat ngetril. Karena jalannya selain bikin kalian kayak naik kuda juga naik turun kayak ninja beneran. Dan nggak ada rumah di kanan- kirinya. Hanya kandang sapi. Serem sih tapi seru lho....

Sesampainya disana, kalian akan menemukan bentuk pemandangan yang indah bingits kayak gini...


Cakep banget yaks, dan pemandangan indah ini akan dilengkapi kalau kalian berani naik tebing- tebing di sebelah kanan atau kirinya. Aku sih lebih milih yang sebelah kiri, ntah kenapa... hahahahaha


 Ini pemandangan Si Cantik Perawan belum terjamah dari tebing kiri atas. Ajib bingits sodarah... dan kanan kirinya pemandangan seru juga lowh...

 Ini pemandangan di sebelah kiri tebing yang ane injek sodarah... kalo sunset asik kalik yah... duhhhh


 Dan ini adalah pemandangan dari sebelah kiri tebing. Seru banget apa lagi kalo kaki bisa di gantungin kayak gini sambil baca novel atau mimik es sirup, alamak....


 Setelah puas untuk look look and see see saatnya foto diri... cia cia cia...





Selanjutnya kita cuzz ke Pantai Jungwok yang sebelumnya menjadi tujuan utama ke sekian kami. Perjalanan dari Sredang ke pantai Jungwok bisa dibilang deket kalo ngetrack jalan kaki naik turun tebing. Namun apa boleh baut, kami bawa motor, jadi kami pun harus puter balek deh. Dan tentu saja medan ke Pantai Jungwok tidaklah mulus semulus pipi artis iklan bedak. Tapi yah...setidaknya nggak separah pantai Srendang. 

Jungwok Beach

Perjalanan kami dari Srendang ke Pantai Jungwok memakan waktu sekitar 40 menit. Sesampai di Pantai Jungwok, yang kami dapati adalah SEPI, tak satu orang pun di sana kecuali kami berdua. Dan hanya terdengar debut ombak, bising angin dan celotehan kami yang kegirangan.




Ini pemandangan sebelah baratnya..., sebelah timurnya seperti ini nih


dan tengahnya itu hampir nyaris seperti ini


Aku suka banget ombaknya. Dari kecil aku suka banget liat ombak bergulung- gulung, jadi keingat kalau mama bikin kue. Jiah... makanan lagi.... Foto dulu sebelum ke Pantai Baron buat makan :D



Baron Beach

Baron Beach, itu terletak masih di kawasan Gunung Kidul. Tapi pantai ini berada jauh ke sebelah dua Pantai ini. Jarak tempuh dari Pantai Jungwok, sekitar 1 jam. Lumayan bingits loh teman temin. Nah, Pantai ini mempunyai karakteristik yang berbeda dengan pantai- pantai lain yang berada di Gunung Kidul. Pantai ini mempunyai pasir berwarna hitam dan banyak kapal- kapal nelayan. Dan yang pasti, di pantai ini banyak yang jual makanan. Jadi ane gak khawatir kelaparan selagi banyak warung disini yang bukak. Menu siang itu adalah Udang Asam Manis, Ikan Bakar, Ca Kangkung, Es Teh Manis. Dan tentu saja pemirsah, menu kami selalu saja limited budget tapi super duper kenyang banget dengan harga 45.000 IDR. Gimana? Mau coba?
Sayang sekali tidak ada foto yang kami ambil di pantai ini. Baiklah dan kahirnya kami berdua kembali ke kota. Oh ya, sudah penasaran belon sama travelmate aku hari ini? Sebut saja namanya DP. Ini oknumnya 


Ini mbak DP, dengan seragam kebesaran ala kerajaannya hahahahahaha

Oke, jam 2.30 PM kami cuzz dari Pantai Baron menuju kota. Dan sampai kota kurang lebih jam 4 PM dilanjutkan packing ke Mount Merapi. Oh ya, sedikit tips dan trick dari ane....

Catatan buat ente- ente yang pada mau ke salah satu pantai tersebut atau ke semua panta tersebut adalah
  1. Pantai ini available buat beach camp
  2. Pantai ini nggak available buat snorkling atau berenang- renang, kecuali jika ente- ente mau dikenang
  3. Sebaiknya anda sewa motor yang oye dan di acc buat ngetrillll
  4. Amunisi full tank
  5. Bawa bekal yang cukup
  6. Bawa obat2an
  7. Dilarang mengeluh
  8. Dilarang putus asa
  9. Haram nggak bawa kamera, apa lagi batrenya empty atau memory nya kelupaan
  10. JANGAN SUNGKAN BERTANYA karna malu bertanya akan sesat dijalan, banyak bertanya sangat memalukan.
  11. Dan lain sebagainya....

Mount Merapi


Gunung Merapi ini selain hobby nyemburin awan panas dan muntahin pasir, gunung ini juga hobby di daki oleh para pendaki yang sejati ataupun nyubi kayak ane loh. Untuk mencapai Mount Merapi, ane musti ngejemput teman ane yang baru kelar gawe jam 8PM dan baru cuzz. Ah lagi- lagi karena ane kecapek an jadi tukang ojek mbak DP, ane ketiduran di toko tempat doi bekerja. Hoalahem...
Oke, dan pada akhirnya jam 9.30 PM ane dan doi berangkat ke base camp, Barameru dimana tempat tsb merupakan start para pendaki lainnya. Kurang lebih sejam perjalanan kami dari Magelang kota sampai basecamp, karena kabut tebellll banget, dan si belalang tempur tidak sanggup buat melek. Bersyukur ada mobil di belakang kami yang mau nyenterin kami dengan lampu jarak jauhnya... hua hua hua...

Setibanya kami di basecam, kami duduk- duduk makan- makan dulu. Secara, ane paling doyan makan dan gak betah laper. Dan tibalah sudah waktu untuk nanjak. Dan yang ane rasakan... brrrrrrr dinginnya bo.... tapi lama kelamaan dingin itu kagak berasa sodara. Dan oke... ane sama doi masi tetep jalan teyus... teyus.. teyus... sampe New Selo... dan teyus sampe nanjak dikit. Dan akhirnya aku merasa bosen. Ini jalur tracknya kok cuma kek gini- gini bae yak, kayak jalur Deuter. Naik terus, nanjak terus, nggak ada bonus- bonusnya, nggak ada diskon- diskonnya. Sampek kami berdua nggak bisa nafas karena kabut tebel banget dan jarak pandang kurang dari 2 meter. Dan akhirnya kami memutuskan untuk turun. Padahal kami keatas membawa misi, untuk rescue, stok logistik beberapa teman kami yang ada diatas. Arrrkkkkkkk beruntunglah kami bertemu beberapa pendaki yang nekat kepuncak, dan kami cuma nitip 1 botol air minum ukuran 1,5 lt buat ber 5 dan harapan, semoga cukup. 

Dan kami berdua pulang ke basecamp dan tidur. Si doi tidur enak bingits, lah ane... tidur ngorok dengan perasaan bete... sampai paginya masi bete... dan siangnya pun bete... dan cuma gambar ini lah sisa- sisa dari kebetean ane yang kagak jadi nanjak Merapi :(








Jadi, siapa yang mau jadi travel mate ku ke Merapi?







Friday, 18 July 2014

Perihal Berbicara Sendiri

Bengong- bengong di kantor karena gawean uda dilalap abis minggu kemaren itu enggak enak banget. Apalagi pas ujan- ujan gini. Pengennya sih ngobrol cekikak cekikik sama mbak- mbak sebelah bangku ane. Tapi apa boleh buat, si doi lagi sibuk beud. Bersyukur masi ada cemilan yang bikin mulut tetep goyang dan secangkir kopi panas.
Kalau kayak gini, jadi inget apa yang pernah ditulis salah satu teman kelas ane dulu perihal orang yang berbicara sendiri. Nggak ada temen ngobrol trus pengen ngomong sendiri. Si doi ingi pernah bilang di postingan fb nya yang nggak tau dia njiplak punyak sapa, kita- kira begini
Talking to a crazy

“Hm, aku heran kenapa orang yang berbicara dengan dirinya sendiri dianggap orang ga waras.” Kata sahabatku tiba-tiba. Aku tertawa kecil sambil berusaha memikirkan kemungkinan jawaban. “Aku kurang setuju kalau mereka dianggap ga waras. Sebab menurutku, itu merupakan tindakan yang sangat logis.” Lanjutnya.

“Logis?” tanyaku kemudian.

“Ya, logis. Tujuan orang berbicara adalah untuk didengarkan bukan? Nah, kalau di sekelilingnya tidak ada orang yang mendengarkan, berbicara dengan diri sendiri adalah sebuah pilihan yang menurutku logis.”

“Hahaha, ookaaay… ” Aku tertawa.

“Ya, itu menurutku. Lebih jauh lagi, aku jadi berpikir jangan-jangan mereka dianggap gila bukan karena mereka berbicara dengan diri mereka sendiri, tapi karena tidak ada orang yang mendengarkan.” Lanjutnya tampak serius.

“Hahaha, kalau begitu,” Aku mencoba menggodanya dengan gurauan. “orang yang benar-benar gila di pinggir jalan itu tidak akan dianggap gila kalau ada orang lain yang berhenti dan mendengarkan ocehannya?”

“Hahaha,”Sahabatku tertawa. “entahlah. Tapi itu adalah sebuah pemandangan yang indah.”


                                                                Fin

Dengan begitu, ane jadi pengen ngomong sendiri, dan tak dengerin sendiri. Sapa tau tembok- tembok atau barang lain tiba- tiba punya sense untuk mendengar.... ah....

Ah... Lord... YOU listen me always.....

Thursday, 17 July 2014

Forbidden Tracking: Kisah Kencan Semalam diantara Pantai Baron- Pantai Kukup

Sebenernya sih, beach camp kali ini nggak ada di agenda bulanan, tapi nggak tau nih kenapa tiba- tiba ada si doi yang rela jauh- jauh dateng dari Jakarta yang tiba- tiba memasang muka memelas setelah ngebolang seharian city tour sendirian. 

Salah sendiri, datang di hari kerja ane. Ane pan lebih takut kerjaan gak kelar dibanding dimarahin pak boss. Nah, abis kelar gawe, baru deh kita kentjan... beganga seharian di Cafe Semesta. Biasa, modus- modus dikit. Dan kami memutuskan buat nge beach camp. Nah, lokasi... bingung deh, mau ngecamp dimana. Akhirnya kami memutuskan untuk meminta pendapat salah satu temen ane yang memberikan pilihan antara pantai Seruni atau Pantai Greweng. Dan akhirnya kami meminta jalur tracking pantai Greweng yang secara prediksi lebih deket dibanding pantai Seruni. 

Directionnya sih jelas: 
Parkir pantai Baron- jalan ke kiri kearah tebing- susur sampai kearah pantainya- naik tebing- turun- lewat ladang2 dan semak2- dan nanti ada tangganya- nah disitulah pilih tempat yang oye buat dirikan tenda. 

Faktanya adalah:
Full moon in that time- nggak bisa parkir di Pantai Baron- akhirnya kami bawa motor kami ke jalan antah berantah yang kira- kira pas lah sama direction tsb- parkir sembarang tempat- nemu jalan setapak- naik tebing-mentok-dan bangun tenda karna tiba- tiba ujan- and storm came...

Oke, kami berdua banyak berdoa eh yes, karena samping tenda kami sudah lautan. Dan tenda kami berasa mau terbang sajo. Mana ada cicak jatuh waktu badai, trus kek ada orang ketuk- ketuk penda dari samping....aaaaaaaaaaakkkkkkkkkkkkkkkkkkkk pokoknya horor bingits sodarah :(
Dan kami pun tertidur karna capek menahan takut.

Dan setelah membuka mata pagi hari, masih hujan- hujan- dan hujan sampai akhirnya kami nekat njebol tenda kami tepat jam 1 siang dalam keadaan hujan. Sebelum kami meninggalkan tempat ntu, tentu saja kami nggak lupa foto- foto.... 

Ini oleh- oleh dari kami ^^

Ini tenda yang kami dirikan, coba liat deh taman kecil yang di depan tenda kami. Kami menyangka itu kuburan lowh sodarah. Karna taman itu bisa ditarik garis lurus sama batu yang ada di belakang tenda kami yang yang ada tulisan T, yang dalam pemahaman ane, T itu untuk tanda tertanam. Ntah yang ditanam harta karun ataukah mayat. aaaarrrggggghhhhhhhhh
Untuk lebih jelasnya tentang tanaman tersebut, berikut gambarnya:

Trus samping tenda kami nih, uda laut kek di bawah ini:

 Nah, agak turun dikit, bisa selfie kek gini lowh...

 Nah, kalo jalur tracking dari bawah kayak gini kira- kira:
Rekoso dab :D

Trus sebelah timur dari tenda kami ada pemandangan yang oye punya kakak. Keren lowh...
Pantai Kukup yang mempesona...
Zoom maksimal plus gerimis cuy

Kalo Sebelah barat, ada juga nih pemandangan oye punya. Pokoknya oye...
Asik kali yes, kalo sun set trus uda pengang secangkir coklat panas ajah...Akkkkkkk mupeng 


Trus, ternyata pas siang ditelusur, masi ada jalan lurus lewat belakang tenda, dan tempatnya jauh lebih enak.... Ah, ketauan napsu pengen banget tidur...:( 
Dan you know, ada jalan oye bingits cuy ke tempat lebih oke... Dan oke, perjalanan kami lanjutkan ketimur. Hingga Pantai Kukup. Ini oleh- olehnya.....









 My travel mate, yang g bisa ndiriin tenda Paduka :P


 Ini sebenernya tempat favorit ane. Secara ane sukak gemerlap lampu. Meski ane nggak begitu doyan dunia gemerlap. Hohohohohohohohoho



 Sekian sodarah, ketjup atu atu buat yang pernah membaca blog ane ini