Thursday, 18 June 2015

Hargo Dumilah: Spot Nyunset dan Nyunrise yang Bikin Kangen


Dan week end telah tiba...Week end telah tiba... Horay...Horay... Horay...Sabtu dini hari, aku, Oscar, Dewi, Anggit, dan Alex sudah redi dengan alat perang buat liat yang indah- indah di Gunung Lawu, Karang Anyar. Tepat jam 2 pagi kami berangkat dari Jogja ke Karang Anyar. Niat banget ya? Yoa, soalnya kami harus menyesuaikan dengan beberapa teman- teman kami dari Jakarta, jadi apa boleh buat. Anggit berboncengan dengan Alex, dan Oscar sendiri, sedangkan aku berboncengan dengan Dewi.

Sesampai di tengah perjalanan, yang menurutku masih kawasan Boyolali, zzzzhhhhh... Banku bocor. Jangkrikkk...!!! Alamat bakal siang nih sampai basecamp. Benar saja, kami kesusahan cari tambal ban karena masi sangat sangat sangat pagi. Namun beruntung, ada penduduk sekitar yang mau bantu kami dorong motor dan ngedobrak tambal ban yang masi tutup. Mungkin doi kasian ini mbak- mbak berdua lemu- lemu ngos- ngosan isuk- isuk bawa keril gedhe. 


Jangkrikkk ke dua kali, banku minta ganti luar dalem. Okelah kalau begitu, ganti wae wis daripada nanti dorong lagi dan gak jadi ikut nanjak gegara kabisan tenaga hahahaha. 

Tepat jam 9 kami sudah berkumpul di Cemoro Kandang. Sambil menunggu rombongan Jakarta, kami bermain kartu sebentar. Tak lama kemudian, teman- teman kami dari Jakarta telah datang. Komplit sudah. Kurang lebih jam 10 kami mulai jalan lewat Cemoro Kandang. Dan kami mulai jalan...

Jalan menuju pos pertama itu, santai dan landai bagai di pantai. Tapi mana bisa aku jalan cepet. Sambil ngemil sambil jalan, sampai di pos I. Kami istirahat sebentar di pos I kemudian lanjut jalan lagi. Alamaaakkkk... Wis rodho rekoso, tapi kalo mau pulang nggak ada temennya. Kepekso lanjut wae lah. Sampai di pos II kami istirahat sebentar, dan semua terlihat baik- baik saja. Kami lanjut jalan lagi. Duh dhek, perjalanan makin berat, untung temen- temen pada tau kalo aku hobi nyemil, mereka sangat menyuport aku untuk sampai puncak dengan memberiku cemilan dan terus nyemil sampai kami di post III. 

Pos III ke pos IV jalanan mulai terjal dan kami mulai berpisah- pisah menjadi kelompok- kelompok kecil. Dan tentu saja aku yang pecel lele ini jadi kelompok yang terakhir dan selalu hore. Gimana nggak hore, bentar- bentar berhenti foto dan makan dan begitu terus dan begitu terus. Sampai gelap hampir tiba, kami baru sampai pos IV. Whoa, cepat kami langsung berganti pakaian hangat dan tidak lupa foto. Wakakakakak...

Kami melanjutkan perjalanan lagi ke puncak. Teman- temanku mulai kelelahan hingga tak ada yang bicara dan bernyayi seperti kala pagi. Hanya aku yang masi ngunyah dan sesekali nguap kalau kunyahannya udah masuk perut. 

Huaaa... Tetiba kelompok kami jadi dua saja, yang kelompok pertama sudah ada entah dimana, kelompok kedua yang ada akunya masi merangkak naik ke puncak. Dan tinggalah kami berempat berteriak- teriak memanggil teman kami. 

Auooo... Kami mulai lapar, logistik ada, gas masih, tapi kompornya dibawa teman kami yang ke bawah. Alex yang ada di kelompokku mulai panik. Mondol dan Om Dodik ikutan panik karena Alex mulai ngomel. Meski mereka berdua nggak ngerti omelannya Alex  karena doi pakai basa enggres, tapi mereka tau bahwa ini nggak bisa dilanjutkan. Akhirnya kami bobok di gubug kecil berempat, sambil nunggu sunrise yang membuka jalan terang ke warungnya mbok Yem, yang konon jadi Seven Elevennya puncak Lawu.

Ini salah satu adegan sunset dibalik rimbunnya pohon menuju pos IV.

Gulungan awan ini, memngingatkanku pada film Doraemon. Pengen gulung- gulung diatasnya :D


Sunrise di Hargo Dumilah.


Irungku ketok mancung ya :P



Jika "terang" tiba, maka kamu akan melihat dengan jelasnya.


Yang ini bonus, kalau turun lewat Cemoro Sewu. Banyak hal yang indah- indah yang Tuhan berikan :D
Terima kasih, Tuhan


Numpang narsis, biar miminnya nggak di bilang hoax  ngahahahaha


Foto kayak gini harus ngantre loh, maklum puncak uda kayak pasar malem ajah XD






No comments:

Post a Comment