Sejak batik sudah dipatenkan oleh UNESCO, maka tiap hari Jum'at menjadi hari batik berjamaah. Mulai dari anak TK, SD, SMA, bahkan mahasiswa yang kadang maha-males bakalan pakai batik. Bahkan bapak, ibu, kakak, adhek, tetangga rumah, tetangga kost, bapak dan ibu guru maupun dosen juga pakai batik. Wah, kompak banget ya..? Iya donk, kecuali yang nggak kompak kaya saya, dengan alesan "Batiknya lagi dicuci soalnya cuma punya satu,"atau "Aduh batiknya uda nggak muat lagi," atau "Aduh nggak punya batik, abis mau beli mahal sih." Ha? Batik mahal? Yang bener ajah?
Yups, batik memang ada yang murah juga yang mahal. Untuk batik yang murah, batik print atau batik cap, bisa kita jumpai di pasar dengan harga kurang dari 25 ribu rupiah per meternya (bisa kurang, bisa lebih). Namun jangan heran, ada juga batik yang mahal yang mungkin akan bikin kita nggak bisa tidur karena harganya horor banget, sehoror film Sadako atau Annabelle yang kekinian. Lha terus, kenapa bisa mahal banget?
Begini nih ceritanya...
Pada suatu hari (kata ajaib nih buat memulai cerita), aku bersama tim kantorku diminta untuk memberikan pelatihan motivasi. Seneng banget, artinya bisa ikut jalan- jalan dan lihat yang indah- indah seperti kesukaanku. Ya karena ini tugas menyenangkan, maka aku rela bolos kuliah jam 4.30 PM. Uhuks... Nggak tau ini contoh baik atau buruk. Duh kok jadi kemana- mana sih... Wis wis... Tambah, gak karon- karon iki...
Desa tujuan kami adalah desa Gunting, Gilangharjo, Pandak, Bantul, Yogyakarta. Sesampainya disana, kami di sambut oleh Pak Tumilan dan lukisan- lukisan batiknya yang cakep- cakep tergantung di temboknya. Sebagai pecinta yang indah- indah, aku merasa mataku di manjakan banget , ngahahahahaha
Setelah beramah- tamah, kami diajak untuk melihat pembuatan batik- batik yang cantik- cantik di belakang rumah beliau. Sesampainya disana taraaaaaa... Banyak ibu- ibu yang sedang berkonsentrasi memegang canting dan menggoreskannya diatas kain batik yang setengah jadi. Batik setengah jadi? Iya, ternyata menggoreskan malam nggak hanya sekali. Perlu berkali- kali menggoreskannya tergantung berapa banyak warna yang diinginkan. Iseng- iseng nanya, biar dikira orang cerdas, "Untuk selembar kain yang sederhana seperti ini, butuh berapa hari bu untuk membatiknya sampai jadi siap pakai?" Ibu yang rambutnya memutih menjawab dengan suara lembut banget, tipikal orang Jawa banget dah pokoknya. "Ya kalau nggak begitu rumit, paling cepat satu minggu mbak. Kalau yang motifnya rumit dan warnanya banyak bisa sampai dua minggu bahkan bisa satu bulan" What??? Suene... Lha kalau pesen selusin, sama artinya setaun. Itu sama aja kayak nunggu kawin sampai lairan...
Sambil berjalan- jalan melihat- lihat proses pembuatan yang lainnya, otakku mulai berpikir. Pekerja disini dibayar berapa ya? Lha kalau sebulan selesai satu batik, gajiannya kek gimana? Kebutuhan padahal tiap hari. Wah mesti batiknya mahal. Rotasi pikiranku berhenti ketika melihat sebuah kertas yang sepertinya pesanan. Iseng aku baca, dan jreng jreng... aku menemukan satu nama yang wow Eng...Ing...Eng... GKR Pembayun. Jangkrikkkk, yang pesen juga kerabat keraton juga. Iki batiknya mesti bagus...
Saking keponya, aku dan tim dari kantorku melihat- lihat batik yang di etalase. Mata kami seolah tak mau berkedip ketika melihat hamparan mantra doa dan harapan diatas kain bermotif. Doa agar batik tulis tidak mati tertelan teknologi, dan harapan agar kain batiknya cepat laku di pasar, bisa nyekolahkan anak, memberikan uang saku, menabung untuk lebaran.
Ah aku tau kini, mengapa batik tulis itu mahal. Yang disayangkan, tak banyak orang yang bisa menghargai karya seni yang konon katanya warisan budaya negri kita tercinta.
 |
| Proses awal pembuatan kain batik setelah penggambaran pola. |
 |
| Abis di-malam-in, lanjut pewarnaan deh. |
 |
| Abis pewarnaan beberapa kali dapet kayak gini nih. Uda gitu, masih di malamin lagi loh... |
 |
| Mengulang pe-malam-an kayak gini sebanyak beberapa kali, tergantung berapa banyak warna yang diingini. |
 |
| Ini merupakan proses akhir setelah semua pemalaman selesai, rebus bang rebus... |
 |
| Tak lupa cuci setelah proses rebus merebus ^^ |
 |
| Proses penjemuran ini merupakan kemenangan dari jembreng mata, ngelilin. |
 |
| Mantra- mantra yang terbentang dari tangan- tangan yang sabar. |
 |
| Nah, ini yang kita perlu kalau kita uda mimbik- mimbik nyidham. |
 |
| Nggak lupa, numpang nampang biar nggak dikatain hoax, ngahahahahaha |
No comments:
Post a Comment