Hai Papandayan,
Kau berhasil membuatku menoleh padamu, memimpikanmu, hingga bergegas menciummu. Meski jarak Jogja- Garut hampir menghalangiku, namun suaramu berhasil merobohkan jarak yang menjadi tembok bisu.
Hai Papandayan,
Ku tau kau tak rindu padaku, tapi kini aku mulai memikirkanmu dan ingin menikmatimu lagi. Berlari- lari kecil berkejaran dengan asap belerangmu, memanjat pohon- pohonmu yang kuat di hutan mati, bermain petak umpet dan menenggelamkan diri di hamparan rerimbunan bunga Edelwiss, belajar memasak di Pondok Salada, berolok- olok dengan teman seperjalanan, dan mencicipi dagangan para penjual gorengan dan cilok yang berhambur sepanjang jalan.
Ah Papandayan,
Kau tak segagah Gunung Gede, dan tak sekokoh Lawu, juga tak sedingin puncak Semeru memang. Namun, bagiku kau cukup layak untuk kurindukan, datang berdua dengan yang terkasih, membicarakan masa depan, bercanda, tertawa, juga mengabadikan kenangan kami berdua. Ah... aku berjanji, untuk tak lupa ceritakan, tentang elokmu, tentang keramahanmu, tentang puncak yang tak pernah kutemukan, juga tentang saksi bahwa kau anugrah yang indah dari Sang Pencipta.
 |
| Ini sambutan pertama dari Gn. Papandayan |
 |
| Ini Pondok Salada, kami belajar mendirikan tenda dan memasak. |
 |
| Hutan mati, semati hatiku tanpamu... eaaaaa :v |
 |
| Aku menemukan ini setelah berjalan sampai ke ujung Hutan Mati, cantik ya ^^ |
 |
| Ini pemandangan yang bisa dilihat dari atas, tempat danau- danau tadi. Keren banget.... |
 |
| Tegal Alun, hamparan luas bunga Edelwaiss. Romantis banget deh... |
 |
| Sok asik dikerumunan bunga- bunga ngahahahaha |
 |
| Temen yang ketemu di jalan, dan sekarang sering kontak- kontakan doang. Ntah kapan lagi jalan- jalannya... |
 |
| Dunia hanya akan seluas sampai mana kaki kita melangkah, dan dari situ kita akan merasa kecil di hadapan Tuhan. |
 |
| Bye Papandayan, sedih... Besok kami main-main lagi ^^ |
No comments:
Post a Comment