Group di aplikasi Whatsappku mulai berisik pakai banget. Bang Ocep yang lagi keranjingan piknik mulai beraksi. Belum lagi 2 pendukungnya yang setia, sekost, dan sekantor juga, Simbah dan Bang Jepri juga ikut- ikutan ribut godain si Mar. Mar yang 25 tahun tapi polosnya gak kalah sama anak SD tahun 90an. Bhahahaha
Yups, mereka sedang merencanakan untuk menghabiskan week end di luar kota. Luar kota Jogja? Sleman donk? Oh tentu tidak hohoho. Jadi kemana donk? Mereka merencanakan untuk mencoba ke Pacitan, menjelajah pantai, bukit- bukit karst yang indah dan juga goa. Ha goa? Serius? Iya goa. Jujur aku agak takut ama yang pakai acara masuk- masuk goa. Bukan karena takut gelep dan sempitnya atau karena takut astma kambuh, tapi ane takut kalo nggak ada yang gandeng, senderan, secara aku kan jomblo. Yaelah modus banget sik.
Masih saja aku menyimak pembicaraan mereka di group, dan fix mereka berangkat hari Sabtu jam 9 pagi dengan rute Jogja- Wonosari- Pracimantoro- Pantai Banyu Tibo- Pantai Klayar- Pantai Saru, eh... Srau maksudnya. Jam 9 ya?Iya jam 9. Aduh, aku praktikum ae jam 10 sampai jam 12 siang, itu sudah paling cepet. Wis- wis, akhirnya aku memutuskan menyusul dengan membawa testi ku ke Pacitan setelah praktikum.
Hari Sabtu telah tiba... Pagi jam 8 aku sudah nangkring depan kosnya Intan, testiku, buat jemput untuk sarapan bareng. Tapi e tahe... doinya baru bangun tidur dan belom packing. Wis- wis, tak bujuki doi buat packing ntar aja abis praktek. Abis doi lumayan melek, kami sarapan di warung Bu RT. Iki mesti alumni Sadhar iki, mesti nostalgia iki. Eh kami sih emang alumni tapi bukan mau nostalgia, cuma mau cek harga ajah bhahahaha. Kali aja harga sepiring masi sayur plus tempe, plus ayam plus air putih uda naik. Dan jawabnya adalah BELOM, masi Rp 5000,- ajah...
Jalan lah kami ke kampus Mercu Buana yang di Jalan Wates. Nggak jalan sih, tapi motoran dan Intan yang bawa motor, sedangkan saya sebagai testernya duduk manis di belakang. Manis? Enggaaakkkk!!! Kok enggak? Gimana mau manis, Jogja- Sedayu yang biasanya 20menit motoran santai, ini bisa sampai 50 menit. Alamakkk.... Membayangkan sampai Pacitan berangkat sekarang, bisa lusa sampainya. Lebay ah...
Oke, akhirnya kami sampai kampus dengan selamat, dan selesai praktikum tepat jam 12 siang. Kami berdua pulang untuk packing dan berangkat jam 3.30 dari Jogja.
Perjalanan kami sangat menyenangkan. Banyak hal- hal indah yang bisa kami lihat di sepanjang jalan, pertambangan bukit kapur, hutan, pasar hewan, sunset diatas bukit- bukit di sepanjang menuju Pracimantoro dan desa- desa yang masih asri. Hingga tak terasa kami tiba di Pantai Klayar ketika bintang terlihat terang namun kalau di foto kayak ketombe. Duh dhek... Emang kadang keindahan hanya bisa dinikmati dengan mata tanpa bisa diabadikan dengan kamera.|Kamera kamu ae Yas sik minta up grade bhahahaha
Malam- malam kami habiskan dengan mengajari Mar si anak polos, yang kalau di polosin gak bakal ngerti, tentang lika liku laki- laki. Tujuannya sih biar doi gak terlalu naif, tapi endingnya malah doi salah tangkep. Gagal wis permuridan dalam permuridan ini. Tapi Thompson & Thompson & Thompson tidak menyerah. Mereka melanjutkan pelajaran sampai pagi, sampai kami menapakkan kaki ke Pantai Srau, sampai si Mar mulai pundung dan gak mau di foto, mereka tetep ngoceh.
Akhirnya kami semua ingin menyerah pada kantuk dan letih. Ah Srau... membuat kami ingin menutup mata, meluruskan punggung agak sedikit lama. Tapi kekepoan kami yang sudah to the max tidak tertahankan lagi, kami mulai menyususri pantai, menyusuri bukit dengan karang yang tajam, setajam silet. Ngeekkk....
Tapi beneran deh, ketika kamu berada diatas salah satu bukit di Pantai Srau, kamu pasti juga akan melakukan hal yang sama sepertiku, menutup mata, dan mengucap syukur bahwa Tuhan masih memberikan kita kesempatan, kesehatan, dan cinta sehingga kita bisa menikmati ciptaanNya.
Kira- kira beginilah oleh- oleh dari Pantai Srau, yang menitipkan rindu dari Sang Pencipta untuk kita yang kadang masih sukak lupa bersyukur.
| Kali ajah ada pemandangan syur, eaaa...eaaa... eaaa... |
| Jalan dari pos retribusi sampai pantai paling ujung yang bikin ane demen. |
| Aku menunggumu wahai kamu, iya kamu yang single namun belum available. Mateehhh... |
| Aku disini, kamu disana, kita menatap langit yang sama. |
| Ini sudut pantai yang ajib aduhai sebenernya, jangan abaikan modelnya. |
| Ini salah satu tambang batu kapur, sayangnya pemandangan dirusak oleh model yang gagal jadi cewek :( |
Betapa banyak perbuatan-Mu, ya Tuhan, sekaliannya Kau jadikan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu.
Sudah lama direncakan ke sini, tapi tapi...
ReplyDeletePada males kalo motoran, maunya mobilan. Biar keseksian pantat terjaga kata mereka. :D
Motoran lebih asoy benernya. Bisa brenti- brenti semau kita. Dan terkadang bisa bikin melayang kayak artis iklan shampo :v
ReplyDelete